Minggu, November 16, 2008

Berkat RBT

AMBRUKNYA pasar penjualan produk album rekaman justru melahirkan model baru pemasaran musik,yakni melalui ring back tone (RBT).

Disebutsebut, pendapatan jualan musik format baru ini melebihi penghasilan dari rekaman album fisik pada masa jaya. Dunia pemasaran produk rekaman musik sudah berubah. Jika dulu hanya dalam bentuk album rekaman fisik seperti kaset, compact disc (CD), video CD (VCD), atau bahkan DVD. Seorang artis akan merasa bangga jika sudah membuat sebuah album. Karya yang akan menjadi identitas seorang artis.

Sebab, akan dianggap aneh jika seorang artis papan atas tidak memiliki album mahakarya. Namun,seiring angka pembajakan saat ini yang semakin tidak terkendali, maraknya format MP3 dalam bentuk CD bajakan serta musik-musik karya artis mulai papan atas, lokal, hingga mancanegara, membuat industri musik harus berhitung kembali dalam men-jalankan bisnisnya.

Tak pelak, musik para artis yang dijajakan di pinggir jalan layaknya jualan kacang goreng menyebabkan penjualan album rekaman legal ambruk dan terancam gulung tikar. Bahkan, para artis dan industri musik tidak akan bisa hidup jika hanya mengandalkan penjualan rekaman album fisik.

Beruntung, kecanggihan teknologi digital melalui RBT menolong para pelaku industri musik tetap bisa bertahan hidup.Bahkan,cara baru jualan musik itu cukup fenomenal. Sebab, cara tersebut sangat digemari masyarakat dan antibajakan.Konsekuensinya, kue ekonomi industri musik semakin mengecil dan harus dibagi untuk banyak pihak.

Sebelumnya,keuntungan dibagi hanya untuk artis, perusahaan label rekaman, serta perusahaan distributor sebagai pemain inti di industri ini. Kini, hadirnya RBT juga harusmelibatkanperusahaan operator telekomunikasi dan perusahaan penyedia content (content provider/CP).

Meski demikian, omzet RBT cukup besar.Dulu,untuk membeli sebuah album legal, masyarakat harus merogoh kocek minimal Rp15.000 untuk kaset dan Rp35.000 untuk CD yang di dalamnya berisi rata-rata 10 lagu. Kini, untuk berlangganan RBT, masyarakat harus merogoh kocek sebesar Rp9.000 per bulan untuk 1 lagu dengan durasi hanya sekitar 30 detik.

Hitunghitungan matematis,membeli lagi melalui RBT sangat mahal dibandingkan membeli album rekaman fisik.Namun, fakta menunjukkan penghasilan dari penjualan album fisik dalam bentuk CD atau kaset anjlok,sementara melalui digital dalam bentuk RBT meningkat drastis. RBT merupakan salah satu bentuk ekspresi masyarakat dalam menunjukkan karakter dan ciri khasnya.

Sesuatu yang amat personal inilah yang membuat RBT laris manis,sebagai nada panggil pribadi telepon seluler (ponsel). Nada panggil telepon yang selama ini ada sudah usang,sehingga seseorang akan memanjakan koleganya yang menelepon dengan musik favoritnya.

Hadirnya era baru penjualan musik ini,menurut General Manager Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (Asiri) Michael Edwin,cukup memberikan angin segar bagi industri musik di dalam negeri. Penjualan RBT tidak sukses di semua negara.Hanya beberapa negara yang tercatat mengalami kesuksesan. Di antaranya Korea Selatan, China,Jepang, Malaysia,dan Indonesia.

Untuk pasar Eropa, penjualan RBT tidak terlalu beruntung karena hanya mampu meraih kurang dari 2% pasar pengguna ponsel pada 2006. Sementara di Korea Selatan, 45% pengguna ponsel menggunakan jasa layanan RBT. Nada panggil pribadi telah menjadi pelayanan standar di Negeri Ginseng, yang pertama kali diluncurkan SK Telecom pada 2002.

Tak dinyana, justru dari RBT inilah bisa menghasilkan pendapatan hampir 50%. Fakta lainnya, pada 2005, salah satu lagu di China diunduh (download) sebanyak 16 juta kali dan setelah dikalkulasi RBT mampu memberikan omzet sebesar USD427 juta pada tahun yang sama bagi industri telekomunikasi di Negeri Tirai Bambu itu.

Setelah diperkenalkan di Asia, barulah RBT diperkenalkan ke pasar Eropa dan Amerika Serikat pada akhir 2004. ”RBT itu hanya merupakan bagian kulit dari industri musik digital, tapi kita cukup sukses dalam hal ini.Sebab,sebenarnya industri musik digital salah satunya dengan true tone atau full track download,” ujarnya kepada SINDO.

Perkembangan musik digital ini memberikan tantangan baru bagi industri musik. Saat ini RBT menjadi primadona di negeri ini.Bisa jadi ke depannya format-format baru akan bermunculan seiring perkembangan teknologi dan selera konsumen. Apa pun keadaannya,federasi internasional industri rekaman (IFPI) memprediksi, pada 2010 seperempat penjualan musik di dunia bakal berubah menjadi digital.

Pada 2006, penjualan digital mencapai angka USD2 miliar atau meningkat dua kali lipat dibanding pada 2005.Hingga kini, format digital baru menguasai 10% dari pasar musik keseluruhan di dunia. Sebagaimana dilansir Reuters, berdasarkan kalkulasi lembaga konsultan dunia Ovum,pasar RBT dunia akan meningkat tajam menjadi USD2,4 miliar pada 2008.

Ini prediksi angka konservatif untuk penjualan di pasar Asia. Tidak salah jika RBT menjadi salah satu sumber pendapatan potensial bagi operator telekomunikasi. Seperti diungkapkan Kepala Divisi Manajemen Konten Indosat Dhoya S Sugarda, RBT mampu menyumbang pendapatan Indosat hingga 40%.

Untuk itu,menurut dia, Indosat semakin berkonsentrasi untuk meningkatkan pendapatan dari sumber ini. Rata-rata, kata dia,omzet Indosat dari RBT mencapai lebih dari Rp21 miliar per bulan. ”Jika nantinya masyarakat sudah jenuh dengan RBT,kita akan cari format lainnya,yang jelas cita-cita kami ingin di total music experience untuk pelanggan,” ungkapnya dalam Diskusi Musik bertema A New Wave in Music Industrydi Blitz Megaplex,Kamis (6/11).

Apa yang diungkapkan Dhoya diamini Direktur Promosi dan Pemasaran PT Aquarius Musikindo Meidi Ferialdi. Menurut dia,omzet Aquarius saatiniyangterbesardarihasil penjualan RBT.Bahkan,penurunan omzet dari hasil penjualan album rekaman fisik yang mencapai hampir 80% kinisudahbisaditutupdengan omzet dari penjualan RBT.

Contoh paling sukses Aquarius adalah ketika menjual RBT lagu Matahariku yang dibawakan penyanyi Agnes Monica beberapa waktu lalu. Hanya dalam waktu sebulan sudah tercatat angka 1 juta unduh (download) dan mencapai penjualan 2 juta aktivasi selama lima bulan kemudian.

”Pada2004–2005,kamimasih bergantung pada omzet penjualan dari rekaman album fisik.Namun, sejak pertengahan 2005 hingga sekarang, kami sudah mengandalkan sumber omzet dari RBT,” ujarnya kepada SINDO. Sebagai gambaran,dalam siaran pers Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) diungkapkan, keuntungan PT Telkomsel dari RBT hanya dalam kurun waktu dua tahun,yakni pada 2004–2006 diperkirakan mencapai Rp4 triliun.

Ini menunjukkan bisnis RBT bagi operator telekomunikasi sangatlah menjanjikan. Kisah sukses lainnya juga diungkapkan Direktur Senior A&R Sony BMG Jan N Djuhana.Sony BMG yang berhasil mengorbitkan kelompok band baru asal Sukabumi, Vagetoz,yang penjualan RBTnya sukses besar.

Meskipun penjualan album kaset biasabiasa saja,tapi hingga saat ini single Betapa Aku Mencintaimu dan Saat Kau Pergi dalam album Sesuatu Yang Beda,unduh RBT-nya menembus angka lima juta aktivasi.Kini,Vagetoz pun telah menjadi band baru yang fenomenal. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar